Semangat Kaum Muda dalam Al Quran

Terakhir diperbarui: 29 Oktober 2025, 04:50 WIB

Setiap tanggal 28 Oktober, Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda, yaitu sebuah momen bersejarah yang menegaskan betapa besarnya peran pemuda sebagai penggerak perubahan dan pemersatu bangsa. Semangat yang melahirkan ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa ini adalah bukti nyata yang dimiliki oleh generasi muda sebagai generasi yang memiliki kekuatan perubahan. Berkaitan dengan hal tersebut, Al-Quran juga telah memberikan perhatian dan penghormatan khusus pada para pemuda ini.
Dalam Al—Quran tidak ada satu kata tunggal dalam bahasa Arab Al-Quran yang secara eksklusif diterjemahkan sebagai "pemuda" dalam bahasa Indonesia. Namun, terdapat beberapa istilah kunci yang digunakan untuk merujuk pada sosok pemuda, yang masing-masing dengan penekanan makna yang khas. Dua istilah yang paling menonjol adalah Fata (فَتَى) dan Ghulam (غُلَام). Al-Qur'an tidak hanya menyebut usia, tetapi juga menyiratkan karakteristik, peran, serta potensi luar biasa yang mereka miliki. Al-Quran mengabadikan kisah-kisah pemuda teladan yang menjadi inspirasi sepanjang masa. Di antara kisah-kisah tersebut, dapat dikelompokkan berdasarkan hikmah yang mereka bawa.  

1. Anak Muda Jangan Gampang Goyah Imannya

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Mutawalli Al-Sya’rawi bahwa para pemuda yang beriman ini, tak segan mengorbankan segalanya dan lari demi menyelamatkan agama mereka, padahal dari segi usia masih tergolong dalam fase pemuda, yaitu sebuah fase yang harusnya mereka itu sedang sibuk-sibuknya dengan urusan duniawi dan ambisi terhadap kesenangannya. Namun mereka ini—para pemuda Ashabul Kahfi—justru telah disibukkan dengan urusan agama mereka sejak usia belia, supaya mereka nantinya bisa menjadi teladan dan contoh bagi para pemuda beriman di setiap waktu dan tempat. Maka, jiwa muda pada diri Ashabul Kahfi ini adalah jiwa muda keimanan dan jiwa muda akidah. 

2. Saat Down atau sulit, Langsung Ngadu ke Alla

Para pemuda ini (Ashabul Kahfi) hidup di bawah kekuasaan raja zalim yang memaksa rakyatnya untuk menyembah selain Allah. Daripada berkompromi dengan akidah (kepercayaan) mereka, para pemuda ini memilih meninggalkan kemewahan dunia dan berhijrah ke sebuah gua. Saat bersembunyi di dalam gua, doa yang mereka panjatkan:  
"Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini." (QS. Al-Kahfi: 10).     Doa tersebut bukanlah permintaan materi, melainkan permohonan supaya Allah Swt. melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya.

Doa mereka ini menunjukkan bahwa prioritas utamanya adalah keselamatan iman, bukan keselamatan fisik. Sebagai respons atas kepasrahan total mereka, Allah mengabulkan doa tersebut dengan cara yang luar biasa, yaitu menidurkan mereka selama ratusan tahun. Selain itu, pada masa tidur mereka Allah juga menjaga mereka dengan selalu memberikan kesejukan bagi tubuh mereka, menjaga tubuh agar tidak dimakan tanah, serta menanamkan rasa takut buat orang-orang yang mau mendekati dan memasuki gua tersebut. (QS. Al-Kahfi: 17-18). 

3. Berani Speak Up Buat Kebenaran 

Imam Ar Razi dalam Mafatih Al Ghaib mengatakan bahwa para pemuda itu berdiri di hadapan raja mereka, Daqyanus yang zalim, sambil berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi". Hal itu karena sang raja mengajak manusia untuk menyembah thaghut (sesembahan selain Allah). Maka, Allah meneguhkan para pemuda ini dan melindungi mereka hingga mereka berani menentang penguasa yang zalim itu, serta mereka mengakui rububiyah (Keilahian/kekuasaan/keagungan) Allah dan menyatakan dengan tegas berlepas diri dari para sekutu dan tandingan (bagi Allah). 

Selanjutnya, Syaikh As-Syarawi juga menjelaskan makna "Berdiri" di sana adalah bukti keberanian mereka buat melawan serta menentang kebatilan yang terjadi saat itu. Kebatilan tersebut telah membuat mereka resah, maka mereka bangkit untuk melawannya dengan ucapan mereka: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi..." (QS. Al-Kahfi: 14). Pastilah mereka telah mendengar ucapan yang bertentangan dengan keyakinan mereka, dan mereka menghadapi perlawanan serta penindasan dalam dakwah mereka. 

4. Semangat Buat Nuntut Ilmu, Apapun Bidangnya 

Intinya, para pemuda Ashabul Kahfi adalah mereka yang menjadikan syariat Islam sebagai prinsip utama, sebuah prinsip yang membuat mereka rela mengorbankan segalanya. Karena ketulusan iman tersebut, Allah membalasnya dengan perlindungan-Nya: Dia menjaga mereka, menerangi pandangan hati, dan meneguhkan keyakinan mereka, bahkan terus menambahkan keimanan kepada mereka. Hal ini sejalan dengan firman Allah, "Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya." (QS. Muhammad: 17). Fenomena ini mirip sekali dengan seorang guru di sekolah yang melihat muridnya begitu cerdas, responsif, dan bersemangat dalam menuntut ilmu. Tentu saja, sang guru akan memberikan perhatian ekstra dan ilmu pengetahuan tambahan kepadanya. Demikianlah Allah memperlakukan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. 

Penutup

Kisah pemuda-pemuda tersebut secara gamblang memberikan teladan bahwa hakikat jiwa pemuda dalam Islam, yaitu jiwa yang dipenuhi keimanan dan ketakwaan. Semangat pemuda Islam bukanlah pada ambisi duniawi yang fana, melainkan harus diarahkan pada tujuan jangka panjang, yaitu akhirat. Kaum muda didorong untuk memiliki fondasi tauhid sejak dini, berani lantang menyampaikan kebenaran di hadapan kebatilan, dan selalu menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya penolong serta pelindung. Dengan menjadikan kisah-kisah ini sebagai cerminan, khususnya bertepatan dengan diperingatinya hari Sumpah Pemuda, marilah kita para pemuda hari ini meneladani mereka, yaitu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menjadikan Allah SWT sebagai sandaran utama, sehingga kita mampu menjadi teladan di setiap waktu dan tempat, serta membawa perubahan yang positif bagi bangsa dan umat beragama. 

Kontributor: Muhammad Fathan Nur Ikhsan