Jejak Panjang Keilmuan KH. Zulfa Mustofa, dari Pesantren Kajen hingga Pucuk Pimpinan PBNU
Oleh: Rayhannevi
Dr. (H.C.) KH. Zulfa Mustofa adalah salah satu ulama terkemuka Indonesia yang memiliki kedalaman ilmu, kecakapan kepemimpinan, serta rekam jejak sanad keilmuan yang bersambung langsung kepada para ulama besar dunia Islam. Beliau lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977 (1396 H), dari keluarga yang dikenal kuat dalam tradisi keilmuan dan dakwah. Ayahnya, Syaikh Muqorrobin Yusuf Al-Syafi’i, berasal dari Pekalongan, sementara ibunya, Nyai Hj. Marhumah Latifah, merupakan keturunan ulama besar dari daerah Kresek, 12 KM dari Tanara wilayah yang dikenal sebagai tanah kelahiran para ulama Banten.
Garis keturunannya sangat kuat pada tradisi ulama Nusantara. Dari jalur ibu, KH. Zulfa Mustofa adalah cucu kemanakan ulama besar Syaikh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama internasional yang karya-karyanya dipelajari hingga ke penjuru dunia Islam. Ibundanya adalah putri dari Nyai Hj. Maimunah, yang juga melahirkan KH. Ma’ruf Amin, ulama besar dan Wakil Presiden RI ke-13. Dengan demikian, KH. Zulfa merupakan keponakan langsung Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin dan tumbuh di lingkungan keluarga besar yang sejak lama dikenal sebagai keluarga dakwah dan keilmuan.
Pendidikan Formal dan Perjalanan Intelektual
KH. Zulfa Mustofa memulai pendidikan formal di SD Al-Jihad Tanjung Priok hingga kelas 3, sebelum kemudian melanjutkan ke sebuah sekolah dasar di Pekalongan saat kelas 4 hingga lulus. Beliau kemudian menempuh pendidikan menengah di MTs Salafiyah Simbangkulon, lalu pindah ke Pondok Pesantren Mathali’ul Falah, Kajen, Margoyoso, Pati, yaitu sebuah pesantren yang telah berdiri sejak 1912 dan dikenal sebagai pusat kajian fikih serta ushul fikih di Jawa. Di sinilai beliau belajar banyak dari para ulama terutama Syaikh Abdullah Zain bin Syaikh Abdussalam, Syaikh Ahmad Rifa’I Nasuha, Syaikh Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, seorang ahli fikih dan ushul fikih, Syaikh Fayumi Munji, Syaikh Zainuddin Dimyathi, Syaikh Ma’mun Muzayyin, Syaikh Abdullah Rifa’i, Syaikh Nafi’ Abdullah, Syaikh Ahmad Yasir, Syaikh Al Fattah Ya’qub, Syaikh Makmun Mukhtar, Syaikh Nur Hadi, Syaikh Nur Hafidh Hasyir, Syaikh Asnawi Rohmat, dan Syaikh Aniq Muhammadun.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat Madrasah Aliyah pada tahun 1996, beliau kembali ke Jakarta ketika bulan Ramadhan untuk memperdalam ilmu pada para ulama Betawi dan keluarganya. Beliau belajar dari pamannya sendiri, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, serta kepada ulama-ulama besar seperti Mu’allim KH. Syafi’i Hadzami, seorang ahli fikih terkemuka dan Syaikh Syarifuddin Abdul Ghani, MA., seorang ulama ahli hadis.
Cita-citanya untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah antara ke Al Azhar atau ke Makkah tidak bisa terwujud karena ayahnya wafat tepat pada malam Idul Fitri. Pada usia muda, 19 tahun, beliau mengemban amanah menggantikan ayahnya mengajar di lima majelis taklim warisan sang ayah. Kesungguhan ini menandai awal kiprahnya sebagai pendidik dan mubaligh, hingga kemudian mendirikan majelis taklimnya sendiri bernama "Darul Musthofa" pada tahun 2000.
Puncak apresiasi akademik diberikan pada 25 September 2024, ketika Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ilmu ‘Arudh dan Kesusastraan Arab atas kontribusinya menghidupkan tradisi syair, karya klasik, dan dakwah keagamaan melalui literasi dan tradisi pesantren.
Sanad Keilmuan KH. Zulfa Mustofa
Kedalaman ilmu KH. Zulfa Mustofa tidak dapat dilepaskan dari sanad keilmuannya yang panjang dan kuat, tersambung melalui berbagai jalur kepada para ulama besar, hingga sampai kepada Rasulullah SAW. Sanad ini menunjukkan bahwa ilmu yang beliau miliki bukan hanya hasil belajar formal, tetapi merupakan warisan keilmuan yang terjaga melalui proses talaqqi, bimbingan, dan transmisi langsung dari guru ke murid selama berabad-abad.
Sanad pertama yang menghubungkan beliau kepada Syekh Nawawi Al-Bantani datang melalui jalur Syaikh Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, seorang ulama besar dari Pati. Syaikh Sahal memperoleh sanad tersebut dari dua gurunya, yakni Syaikh Zubair dari Sarang (Rembang) dan Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani dari Makkah. Kedua ulama ini memiliki sanad yang bersumber dari Syaikh Bagir bin Nur dari Yogyakarta dan Syaikh Abdul Muhith bin Yaqub Siwalan Panji dari Sidoarjo. Jalur sanad ini kemudian bertemu pada tokoh besar, Syaikh Mahfudh bin Abdullah al-Tarmasi, yang menjadi penghubung langsung kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, dan dari beliau sanad itu bersambung hingga kepada Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani, salah satu ulama Nusantara paling berpengaruh dalam tradisi keilmuan Syafi’iyyah.
Sanad kedua datang dari jalur yang berbeda namun mengarah pada tokoh besar yang sama, yaitu KH. Zainuddin Dimyathi dari Pati yang dari beliau, KH. Zulfa Mustofa terhubung kepada Syaikh Muhammadun Pondowan, kemudian kepada Syaikh Amir bin Idris dari Simbang, Pekalongan, hingga sampai kepada Syaikh Mahfudh al-Tarmasi, dan akhirnya kembali terhubung kepada Syaikh Nawawi al-Bantani. Dengan adanya dua jalur sanad yang mengarah pada ulama besar ini, semakin terlihat betapa kuatnya hubungan keilmuan KH. Zulfa Mustofa dengan tradisi intelektual pesantren Nusantara.
Tidak berhenti di situ, KH. Zulfa Mustofa juga merujuk sanad Syekh Nawawi dalam fikih Mazhab Syafi’i sebagaimana dinukil oleh ahli sanad internasional, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani. Dalam catatan ini, Syekh Nawawi tercatat menerima sanad fikih dari Syaikh Abdul Hamid al-Syarwani, pengarang Hasyiah atas Tuhfah al-Muhtaj, serta dari Syaikh Ibrahim al-Bajuri, ulama besar Al-Azhar. Keduanya adalah murid dari Syaikh Usman Abi al-Hasan al-Dimyathi, yang kemudian mengambil ilmu dari dua ulama Al-Azhar lainnya, yaitu Syaikh Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi dan Syaikh Muhammad bin Ali al-Syanwani.
Sanad ini kemudian bersambung melalui beberapa ulama besar, termasuk Syaikh Abdus Shamad al-Falimbani di Makkah yang menjadi simpul penting dalam penyebaran ilmu para ulama Jazirah Arab kepada ulama Nusantara. Melalui dua jalur besar, sanad itu tersambung kepada Syaikh Ahmad al-Bisybisyi, lalu bergerak menuju Muhammad bin al-‘Ala al-Babili, Syaikh Ali al-Zayyadi, dan Syams Muhammad bin Ahmad al-Ramli al-Shaghir. Dari sinilah sanad itu terus naik kepada Syihab al-Ramli al-Kabir dan Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, dua ulama besar yang memiliki pengaruh kuat dalam pengembangan fikih Syafi’i.
Rantai sanad tersebut kemudian berlanjut kepada tiga tokoh terkemuka, yaitu Jalaluddin al-Mahalli, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Jalaluddin al-Bulqini, sebelum akhirnya sampai pada Al-Zayn Abdurrahim al-Iraqi, murid dari Syaikh ‘Alauddin bin al-Aththar, yang merupakan murid langsung dari Imam Nawawi. Dengan demikian, sanad fikih Syafi’i ini secara jelas melalui jalur emas menuju Imam Nawawi, salah satu pilar utama Mazhab Syafi’i.
Dari Imam Nawawi, sanad itu terus bersambung kepada para guru beliau, seperti Imam Abu Ibrahim Ishaq al-Maghribi, Abu Muhammad Abdurrahim al-Magdisi, dan Abu Hafsh Umar al-Irbili, hingga sampai pada Imam Abu ‘Amr Usman bin Abdurrahman ibn al-Shalah (Ibnu Shalah), tokoh penting dalam ilmu hadis dan fikih yang menjadi rujukan banyak ulama besar setelahnya. Ibnu Shalah menerima sanad dari ulama-ulama Irak seperti Ibnu Abi ‘Ashrun, Abu Ali al-Farugi, dan Abu Ishaq al-Syairazi, sang penulis kitab al-Tanbih. Jalur ini kemudian terhubung kepada Al-Qadhi Abu al-Thayyib al-Tabari, Abu al-Hasan al-Masirjisi, dan Abu Ishaq al-Marwazi, sebelum kembali sampai kepada ulama besar Mazhab Syafi’i lainnya, Abu al-Abbas Ahmad ibn Suraij.
Dari Ibn Suraij, sanad itu menuju Abu al-Qasim al-Anmathi, kemudian kepada Imam al-Muzani, murid utama Imam Syafi’i, dan akhirnya sampai kepada Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i sendiri. Dari Imam Syafi’i, mata rantai itu kembali bersambung kepada para ulama sebelumnya, seperti Imam Malik, Rabi’ah, dan Anas bin Malik, serta kepada Nafi’ dan Ibnu Umar, sebelum akhirnya bermuara pada sumber utama seluruh ilmu agama, yaitu Rasulullah SAW. Imam Syafi’i juga menerima ilmu melalui jalur penting lainnya seperti Sufyan bin ‘Uyaynah, ‘Amr bin Dinar, Ibnu Abbas, serta Muslim bin Khalid az-Zanji, dan Atha’ bin Aslam, yang semuanya bermuara pada sahabat-sahabat Nabi yang terpercaya.
Selain itu, sanad juga sampai kepada ulama Khurasan melalui jalur Ibnu Shalah yang berguru kepada Abu al-Qasim al-Bazari, Abu al-Hasan al-Kiyahirasi, dan kemudian kepada Imam al-Haramain al-Juwayni, tokoh berpengaruh dalam ushul fikih. Dari Imam al-Haramain, sanad ini bersambung kepada ayahnya, Abu Muhammad Abdullah al-Juwayni, dan seterusnya kepada Abu Bakar al-Qaffal al-Marwazi, lalu kepada Abu Zayd al-Marwazi, Abu Ishaq al-Marwazi, hingga sampai lagi kepada Ibnu Suraij, yang sanadnya telah bertemu dengan jalur-jalur yang telah disebutkan sebelumnya.
Seluruh rangkaian sanad ini menunjukkan bahwa KH. Zulfa Mustofa tidak hanya memiliki penguasaan ilmu yang luas, tetapi juga mewarisi jaringan transmisi keilmuan yang autentik dan terhubung langsung kepada ulama-ulama besar dunia Islam. Melalui sanad-sanad inilah, keilmuannya berdiri di atas fondasi yang kokoh, bersumber dari tradisi keilmuan yang terjaga dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga kepada Rasulullah SAW.
Karya-Karya Penting yang Menguatkan Tradisi Fikih Syafi’i dan Studi Keilmuan Nusantara
1. Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li Al-Mutafaqqih Jahluhu: Buku ini membahas prinsip-prinsip penting dalam pengambilan fatwa dan hal-hal yang tidak boleh diabaikan oleh seorang penuntut ilmu fikih.
2. Diqqah Al-Qanash fi Fahmi Kalam Al-Imam Al-Syafi’i: Buku ini mengurai metodologi Imam Syafi’i dalam memahami teks hukum dan kaitannya dengan praktik pengambilan keputusan hukum kontemporer.
3. Tuhfah Al-Qashi wa Al-Dani: Sebuah karya istimewa berupa terjemahan dan kajian biografi Syekh Nawawi al-Bantani, menjelaskan peran Syekh Nawawi sebagai ulama Nusantara terbesar serta pengaruhnya di dunia Islam
Karier Kepemimpinan: Dari Ansor hingga PJ Ketua Umum PBNU
Selain kiprah keilmuan, KH. Zulfa Mustofa aktif dalam berbagai organisasi keagamaan nasional. Beliau mengawali karier organisasi sebagai kader Gerakan Pemuda Ansor Tanjung Priok pada tahun 1997, kemudian menjadi Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU (2010 – 2015), Sekretaris Jenderal MUI DKI Jakarta (2013 – 2018), dan Katib Syuriyah PBNU (2015 – 2021). Beliau juga menjabat Ketua Komite Fatwa BPJPH Kemenag sejak 2023, Wakil Ketua Umum PBNU (2022 – 2025), serta Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat periode (2025 – 2030).
Puncaknya terjadi pada 9 Desember 2025, ketika beliau ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggantikan KH Yahya Cholil Staquf. Penetapan ini terjadi melalui rapat pleno Syuriyah PBNU di Hotel Sultan, dan menempatkannya sebagai figur sentral dalam menjaga stabilitas dan persatuan organisasi menjelang Muktamar NU 2026.
Sebagai ketua umum sementara, beliau menegaskan prioritasnya untuk menjalin komunikasi internal guna menormalkan dinamika organisasi, serta merangkul semua pihak agar PBNU tetap solid dan produktif dalam perannya di masyarakat.
Kesimpulan
Dr. (H.C.) KH. Zulfa Mustofa adalah sosok ulama yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu klasik secara mendalam, tetapi juga mampu mengaktualisasikannya dalam ruang sosial dan kelembagaan modern. Sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW, karya-karya ilmiah yang bernilai tinggi, serta perannya di berbagai lembaga keagamaan nasional menjadikannya salah satu figur penting dalam lanskap keislaman Indonesia. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa tradisi pesantren bukan hanya melahirkan ulama yang ahli kitab, tetapi juga pemimpin umat yang mampu menjaga warisan intelektual sekaligus menjawab tantangan zaman.
Referensi
BPJPH. (2023, Maret 27). Percepat Capaian Sertifikasi, Menag Tunjuk Tim Plt Komite Fatwa Produk Halal. Retrieved from bpjph.halal.go.id: https://bpjph.halal.go.id/detail/percepat-capaian-sertifikasi-menag-tunjuk-tim-plt-komite-fatwa-produk-halal
Hayat. (2022, Juli Jumat). Biografi KH Zulfa Mustofa Waketum PBNU, Kiai Alim Keturunan Syekh Nawawi Banten. Retrieved from SinergiMadura.com: https://www.sinergimadura.com/profil/pr-2903893375/biografi-kh-zulfa-mustofa-waketum-pbnu-kiai-alim-keturunan-syekh-nawawi-banten
Iksan. (2025, Desember 10). Siapa Zulfa Mustofa? Ini Profil dan Biodata PJ Ketum PBNU Pengganti Gus Yahya: Umur, Keluarga, Pendidikan. Retrieved from lamongan.pikiran-rakyat.com: https://lamongan.pikiran-rakyat.com/sosok/pr-3869852402/siapa-zulfa-mustofa-ini-profil-dan-biodata-pj-ketum-pbnu-pengganti-gus-yahya-umur-keluarga-pendidikan?
IPNU, M. (2025, Oktober 12). Profil KH Zulfa Mustofa, Pj Ketum PBNU yang Gantikan Gus Yahya. Retrieved from mediaipnu.or.id: https://www.mediaipnu.or.id/2025/12/profil-kh-zulfa-mustofa-pj-ketum-pbnu.html?#google_vignette
MUI. (2025, November 23). Berikut Susunan Lengkap Pimpinan MUI Periode 2025-2030. Retrieved from mui.or.id: https://mui.or.id/baca/berita/berikut-susunan-lengkap-pimpinan-mui-periode-2025-2030
Mustofa, Z. (2023). Syaikh Nawawi Al-Bantani Biografi Sosial Intelektual dan Spiritual. In D. (. Mustofa, Terjemahan Kitab "Tuhfah Al-Qashi wa Al-Dani" Syaikh Nawawi Al-Bantani Biografi Sosial Intelektual dan Spiritual (pp. 17-30). Tangerang Selatan: Pustaka IIMaN.
Redaksi. (2022, May 1). Kisah Tentang KH Zulfa Mustofa . Retrieved from suluk.id: https://suluk.id/kisah-tentang-kh-zulfa-mustofa/
Sumber gambar
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQph216J4yTXL7iqZgIWca11BzaqJX9R0SZWg&s