Tradisi Yasa Peksi Burak, Burung Sebagai Simbol Kendaraan Kangjeng Nabi Muhammad Saat Perjalanan Isra’ Mi’raj?

Tradisi Yasa Peksi Burak, Burung Sebagai Simbol Kendaraan Kangjeng Nabi Muhammad Saat Perjalanan Isra’ Mi’raj?

20 Januari 2026, 16:11 WIB Budaya Oleh: Aji Sentosa 437 Kali dilihat

Tradisi Yasa Peksi Burak, Burung Sebagai Simbol Kendaraan Kangjeng Nabi Muhammad Saat Perjalanan Isra’ Mi’raj?

Oleh: Aji Sentosa

Sebuah gambar berisi bunga, mawar, pohon Natal, kartu ucapan

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.
Gambar 1 Pelaksanaan Yasa Peksi Burak. Sumber: Kawedanan Tandha Yekti, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

 

Peristiwa Isra’ Mi’raj menandai sebuah momen agung dalam perjalanan risalah Islam, yang mengisahkan dua tahap perjalanan spiritual Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam yang berlangsung dalam satu malam. Kejadian ini tidak hanya mencerminkan kekuatan Ilahi, tetapi juga menjadi sumber motivasi dan penguatan iman bagi umat Islam. Dalam rangka menghormati dan mengambil pelajaran dari peristiwa suci ini, masyarakat Muslim di seluruh dunia secara rutin menyelenggarakan berbagai aktivitas religius, mulai dari pengajian, pembacaan kisah peristiwa, hingga pelaksanaan ibadah khusus yang sarat makna.

Di Indonesia sendiri, cara peringatan Isra' Mi'raj dipenuhi dengan berbagai tradisi khas yang menggabungkan antara aspek spiritual Islam dan kearifan lokal, contohnya adalah upacara Hajad Dalem Yasa Peksi Burak yang diadakan di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, di mana tiruan Buraq yang menakjubkan dibuat dan diarak dalam suatu prosesi khidmat sebagai bentuk penafsiran budaya atas kisah perjalanan spiritual Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Upacara ini diadakan setiap tanggal 27 Rejeb menurut kalender Sultan Agung. Tahun ini bertepatan pada 27 Rejeb 1959 Dal., atau 27 Rajab 1447 H. atau 16 Januari 2026 M. 

Makna Yasa Peksi Burak

Tradisi Yasa Peksi Burak memiliki fungsi yang sangat penting dalam peringatan Isra’ Mi’raj di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tradisi ini muncul sebagai ekspresi penghormatan terhadap perjalanan spiritual yang mulia dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, yang dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian naik ke Sidratul Muntaha.

Yasa artinya “Membuat”, Peksi artinya “burung”, dan Burak artinya “buroq” kendaraan nabi Muhammad Saw. ketika melaksanakan isra’ mi’raj. Jadi Yasa Peksi Burak adalah membuat miniatur kendaraan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ketika melakukan perjalanan Isra’ wal Mi’raj. Tradisi Yasa Peksi Burak merupakan salah satu contoh penggabungan budaya antara Islam dan tradisi keraton yang diwariskan berkelanjutan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tradisi ini telah ada dan diamalkan sejak era pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I, yang menjadi bentuk penghormatan untuk peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Dalam rangka memperingati peristiwa bersejarah itu, Keraton Yogyakarta menginterpretasikan momen ini ke dalam simbolik yang dikenal dengan nama Peksi Burak, yang merupakan representasi lokal dari kendaraan nabi bernama buroq.

Tradisi Yasa Peksi Burak yang berlangsung di kawasan Keraton Yogyakarta lebih dari sekadar sebuah prosesi simbolis; ia dipenuhi dengan nilai-nilai spiritual, sosial, dan pendidikan yang mendalam. Bagi para pelaku budaya dan abdi dalem yang ikut serta, tradisi ini bertindak sebagai penghubung antara nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal yang telah diturunkan dari generasi sebelumnya.

Peksi (Burung) Sebagai Simbol Kendaraan Kangjeng Nabi?

Sebuah gambar berisi tanaman, jendela, bunga, outdoor

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.
Gambar 2 miniatur Peksi Burok. Sumber: Kawedanan Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

 

Penulis buku “Keraton Ngayogyakarta Hadininrat Jilid II”, Mas Farhan Walid Ihsan, S. Pd., mengatakan Peksi atau burung itu punya makna simbolik yang kuat. Burung digambarkan sebagai makhluk yang bisa terbang tinggi, mendekat ke langit. Dalam konteks Yasa Peksi Burak, peksi dimaknai sebagai simbol hubungan antara manusia dengan Tuhan seperti doa, harapan, dan rasa syukur yang diangkat ke atas. Burung (Peksi) juga sering dimaknai sebagai simbol kesucian, kebebasan, dan kehidupan. Jadi peksi burak itu bukan bentuk sembarangan, tapi sarat makna spiritual dan filosofis. Selanjutnya GKR Mangkubumi menegaskan “Peksi ini kan melambangkan kendaraan yang menemani Nabi naik ke langit. Kami (keraton) membuat burung burak dan semua merupakan hasil karya perempuan yang ada di dalam keraton”.

Sebuah gambar berisi orang, pakaian, jari, Wajah manusia

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.Sebuah gambar berisi tanaman, plafon, pohon Natal, atap

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.

Gambar 3 sepasang Peksi Burak. Sumber: Karaton Ngayogyakarat Hadiningrat

Peksi Burak dibuat dengan memanfaatkan buah serta kulit jeruk bali. Kulit itu diproses dan diukir sehingga menyerupai bentuk tubuh, leher, kepala, dan sayap dari seekor burung. Burung jantan diberikan jengger untuk membedakannya dari betina. Setiap Peksi Burak akan diletakkan di atas sebuah sarang atau susuh yang terbuat dari daun kemuning sebagai tempat untuk bertengger. Peksi Burak dan susuh ini diletakkan di puncak pohon buah, yang disangga oleh potongan-potongan bambu. 

Peksi Burak dibuat 2 Pasang yang melambangkan laki-laki dan perempuan, peksi burak perembuatan pada bagian paruh di berikan lipstik merah, yang melalui hal ini keraton dan para pemuka agama kraton ingin mengajarkan kepada para masyarakat bahwa kesetaraan gender dan tidak ada perbedaan perlakuan dalam hal hak dan kewajiban dalam menjalankan ibadah di antara laki-laki maupun perempuan kecuali dalam hal praktiknya, karena semua manusia baik laki-laki dan perempuan itu sama di hadapan Allah ta’ala yang membedakan adalah amal salehnya.

Yasa Peksi Burak Terdiri dari Rangkaian Buah-buahan

5.2.2 1 Yasa Peksi Burak
Gambar 4 Pohon Peksi Burak. Sumber: Kawedanan Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

 

Mas Farhan menegaskan, “sejak awal, Yasa Peksi Burak memang dimaknai sebagai bentuk ungkapan rasa syukur. Buah-buahan itu simbol dari hasil bumi, rezeki yang diberikan Tuhan.” Di dalam tradisi Keraton, buah itu bukan sekadar hiasan, tapi melambangkan kelimpahan, kesuburan, dan keberkahan. Selain itu, buah juga identik dengan sesuatu yang alami, bersih, dan bermanfaat. Jadi pesan yang ingin disampaikan itu sederhana tapi dalam, apa yang dipersembahkan kepada Allah adalah hasil terbaik dari apa yang kita miliki.

Pohon buah terbuat dari tujuh jenis buah lokal yang disusun di atas sebuah anyaman bambu, sehingga membentuk seperti pohon. Angka tujuh dalam bahasa Jawa diucapkan pitu. Pitu di sini dirancang untuk mendapatkan bantuan atau dukungan, keamanan, dan kesejahteraan. Secara berurutan, tujuh jenis buah yang disusun pada pohon tersebut adalah salak, sawo, apel malang, jeruk bali, rambutan, manggis, dan di bagian paling bawah terdapat pisang raja. Pisang raja melambangkan bahwa Raja Kasultanan Ngayogyakarta adalah pelindung bagi rakyatnya. Di atas buah-buahan tersebut disusunlah tebu-tebu yang sudah dipotong dan dihancurkan. Selanjutnya rangkaian daun-daun kemuning dengan bunga patra menggala dipasang sebagai tempat duduk Sang Peksi Burak.  Sebagai sentuhan akhir, pohon buah ini akan dikelilingi oleh rangkaian bunga melati yang melambangkan kesucian.

Pohon Bunga Yang Menggambarkan Taman Surga

5.2.2 2 Pohon Bunga
Gambar 5 Pohon Bunga pendamping Peksi Burak. Sumber: Kawedanan Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

 

Empat pohon berbunga dibuat dari kombinasi rangkaian daun-daunan dan berbagai jenis bunga yang disusun pada struktur bambu. Pohon-pohon berbunga ini merepresentasikan taman surga. Seluruh dekorasi Peksi Burak mencerminkan sepasang burung jantan dan betina yang bertengger di atas pohon buah-buahan dalam taman surga.

Peksi Burak di Buat oleh Para Putra Dalem Putri serta Para Abdi Dalem Keparak

Sebuah gambar berisi Wajah manusia, pakaian, orang, makanan

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.

Sebuah gambar berisi Wajah manusia, orang, pakaian, Aksesori busana

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah. Sebuah gambar berisi orang, buah, pakaian, menjual

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.

Gambar 6  Para Putra Dalem Putri Merangkai Peksi Burak. Sumber: Kawedanan Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Dalam tradisi Keraton, perempuan terutama para Gusti Kanjeng Ratu dipandang memiliki peran penting dalam menjaga kesucian, ketelatenan, dan nilai-nilai adiluhung. Proses pembuatan Peksi Burak itu membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kehalusan rasa. Nilai-nilai itu secara kultural dilekatkan pada perempuan Keraton. Selain itu, keterlibatan Putro Dalem Putri juga menunjukkan bahwa tradisi ini adalah kagungan dalem, tradisi internal Keraton yang dijaga langsung oleh keluarga inti Sultan, bukan sekadar kegiatan seremonial biasa. Selain itu di dalam tradisi ini juga mengingatkan akan pentingnya perintah salat 5 waktu, maka dari itu dibuat langsung oleh keluarga inti Keraton yaitu Putro Dalem Putri. 

GKR Mangkubumi menempatkan peksi burak di atas rangkaian buah-buahan. GKR Bendara menyusun tujuh buah-buahan (pisang, rambutan, manggis, jeruk, sawo, apel, jeruk bali, salak, dan tebu). Di sudut lain, GKR Condrokirono membantu Sentana Dalem Putri mengupas jeruk bali. Sementara GKR Maduretno GKR Hayu merangkai bunga melati sebagai salah satu hiasan Peksi Burak. Abdi Dalem Keparak dengan tekun merangkai dedaunan dan bunga untuk menjadi empat pohon bunga sebagai perlambang taman surga.

Bangsal Sekar Kedhaton Sebagai Tempat Pembuatan Peksi Burak

Mas Farhan Walid menegaskan bahwa pembuatan Yasa Peksi Burak dilakukan di Bangsal Sekar Kedathon yang terletak di kompleks Keputren. Bangsal ini secara khusus merupakan ruang perempuan di dalam Keraton. Pemilihan tempat ini bukan kebetulan. Bangsal Keputren dianggap sebagai ruang yang sakral, tertutup, dan terjaga, sehingga proses pembuatan Peksi Burak bisa dilakukan dengan suasana yang tenang, bersih, dan penuh kehati-hatian. Artinya, bukan hanya hasil akhirnya yang sakral, tapi proses pembuatannya pun dijaga kesuciannya, baik dari segi tempat, pelaku, maupun tata caranya.

Tahapan Pelaksanaan Upacara Tradisi Yasa Peksi Burak

1. Pembuatan Yasa Peksi Burak

Prosesi Yasa Peksi Burak di Keraton Yogyakarta dimulai pada pagi hari di area Keputren. Di sini, para putri dalem, dipimpin oleh para Gusti Kanjeng Ratu, memiliki tanggung jawab utama dalam membuat replika Peksi Burak selama beberapa hari hingga satu minggu. Replika yang menunjukkan sepasang burung jantan dan betina ini terbuat dari kulit jeruk bali yang diolah dan diletakkan di atas pojan buah setinggi satu meter, yang dikelilingi oleh setidaknya tujuh jenis buah, seperti pisang raja, manggis, dan rambutan, bersama dengan berbagai bunga. Seluruh rangkaian ini melambangkan kesuburan, berkah, dan estetika surgawi, dengan pembagian peran gender yang khas dalam pelaksanaannya.

Sebuah gambar berisi pakaian, orang, tanaman, wanita

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.
Gambar 7 GKR Mangkubumi menyeahkan Peksi Burak kepada Abdi Dalem Kanca Kaji. Sumber: Kawedanan Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

 

Sekitar jam 16.00 WIB, GKR Mangkubumi memberikan dua pohon buah dan empat pohon bunga yang sudah dirakit kepada Abdi Dalem Kanca Kaji dan Suranata untuk mendapatkan doa. Setelah itu, rangkaian Peksi Burak diarak oleh Kanca Abrit dari Keputren menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe. Di Masjid Gedhe, rangkaian Peksi Burak diterima oleh KMT Sari Hartaka Dipura dari Urusan Pengulon untuk digunakan sebagai unsur pendukung dalam pengajian pembacaan risalah Isra Mikraj.

2. Arak-arakan Rangkaian Peksi Burak

Sebuah gambar berisi outdoor, langit, bangunan, pohon

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.

Peksi Buraq Februari 2023 003

Gambar 8 Prosesi Arak Arakan Peksi Burak. Sumber: Kawedanan Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Setelah disusun, kedua Peksi Burak diarak pada sore  hari sekitar jam 16.00 WIB dari Bangsal Sekar Kedhaton menuju Serambi Masjid Gedhe Kauman, dipimpin oleh Abdi Dalem Kanca Kaji dan diiringi dengan pembacaan doa. Prosesi ini dianggap sebagai alat untuk berdakwah. Setelah sampai di masjid, dilakukan penyerahan simbolis dari pihak Keraton kepada Pengulon, kemudian dipimpin oleh Kyai Penghulu untuk mendoakan keselamatan Sultan, keluarga keraton, serta seluruh masyarakat Nagari ing Ngayogyakarta Hadiningrat

3. Pengajian Kagungan Dalem di Serambi Masjid Gedhe Kauman

Desain Postingan 13
Gambar 9  Pembacaan Risalah Isra' Mi'raj oleh Abdi Dalem Pengulon. Sumber: Kawedanan Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

 

Puncak kegiatan dilaksanakan malam hari di Serambi Masjid Gedhe, diawali dengan Tahlil Hadiningrat, pembacaan doa, serta Risalah Isra' Mi'raj selama sekitar satu jam.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  (١) 

"Maha Suci Allah, kang wus nlampahake Abdi Kawulane (Nabi Muhammad SAW), ing wayah wengi, saka Masjidil-Haram, marang Masjidil Aqsha (kang uga aran Baitul Maqdis) kang wus ingsun paring kautaman ing kiwa tengene, perlu sun tuduhake marang deweke Muhammad, pirang-pirang tanda yektining sun.Temen-temen Allah iku Dzat kang Maha Miyarsa lan Ngawuningani.” (Q.S. Al-Isra'/17: 1)

Surah Al-Isra ayat 1 menjadi pembuka perjalanan Isra Mikraj Kanjeng Nabi Muhammad SAW di Kagungan Dalem Serambi Masjid Gedhe. Di hadapan ratusan jemaah serta sekelompok Abdi Dalem Pengulon, Mas Bekel Ngabdul Muh Asrori membacakan risalah Isra Mikraj dalam bahasa Jawa pada 27 Rejeb 1959 Dal, pukul 20.00 WIB. Bacaan tersebut juga disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Kraton Jogja.

Cerita dan pelajaran dari perjalanan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian ditafsirkan secara mendalam oleh Abdi Dalem Pengulon. Setelah bacaan usai, buah-buahan dari rangkaian Peksi Burak dibagikan kepada semua hadirin sebagai sedekah dari Sultan, sementara kedua replika burung itu ditempatkan di lokasi berbeda, satu di Pengulon dan satu di serambi masjid, sebagai simbol keseimbangan spiritual dan kelestarian budaya.

Nilai-nilai Keislaman dibalik Tradisi Yasa Peksi Burak

Tradisi Yasa Peksi Burak di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang komprehensif, meliputi nilai keimanan (akidah), ibadah, dan akhlak, yang terinternalisasi melalui simbol, praktik ritual, dan interaksi sosial budaya.

1. Nilai Keimanan (Akidah)

Esensi keimanan terwujud melalui simbol burak yang menggambarkan pengalaman Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Kebiasaan ini berfungsi untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kebesaran Allah Swt. serta kebenaran peristiwa spiritual yang dialami oleh Rasulullah. Selain itu, tradisi ini mengingatkan akan kewajiban melaksanakan salat lima waktu sebagai ekspresi iman, sehingga keimanan tidak hanya berada pada level pengakuan verbal, tetapi juga terimplementasi dalam kesadaran dan tindakan nyata.

2. Nilai Ibadah

Konsep ibadah dalam tradisi Yasa Peksi Burak terlihat dari bentuk-bentuk ritual, sosial, dan spiritual. Praktik doa, zikir, tahlil, dan pengingat salat menunjukkan pengabdian serta penghambaan kepada Allah ta'ala. Sementara itu, pemberian sedekah dan hubungan silaturahmi antara keraton, abdi dalem, dan masyarakat menggambarkan aspek ibadah sosial. Ketekunan dalam menjalankan tradisi mencerminkan nilai istikamah, yaitu keteguhan dan keikhlasan dalam beribadah.

3. Nilai Akhlak

Nilai akhlak terlihat melalui sikap saling membantu, kolaborasi, kesabaran, ketulusan, dan penghormatan terhadap sesama. Penerapan adab dalam bertindak, seperti cara duduk, berbicara, dan menerima sedekah, menjadi media untuk belajar akhlak secara langsung. Tradisi ini menanamkan nilai tawadhu’, qana’ah, ta’awun, dan empan papan, serta menunjukkan hubungan akhlak dengan Allah (ḥablum minallāh) dan hubungan akhlak dengan sesama manusia (ḥablum minannās).

Kesimpulannya 

Tradisi Yasa Peksi Burak bukan hanya peristiwa budaya, tetapi berfungsi sebagai media pendidikan Islam berbasis budaya yang efektif. Melalui simbol, ritual, dan praktik sosial, nilai-nilai keimanan, ibadah, dan akhlak diinternalisasikan secara holistik dalam pengalaman spiritual kolektif masyarakat. Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi sarana strategis dalam pendidikan Islam selama tetap berlandaskan pada ajaran dan nilai-nilai keislaman.

SUMBER:

1) Kandedes, Iin, dan Farhan Walid Ihsan. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Menyelami Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Yasa Peksi Burak Jilid 2). (Depok: Pt Rajagrafindo Persada, 2025).

2) Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Momentum Isra Mikraj, Keraton Yogyakarta Gelar Hajad Dalem Yasa Peksi Burak, (diakses pada 20 Januari 2026), https://www.kratonjogja.id/peristiwa/1249-momentum-isra-mikraj-keraton-yogyakarta-gelar-hajad-dalem-yasa-peksi-burak/