"ALLAH ADA TANPA BUTUH TEMPAT"
Oleh: Ustadz Mawardi Syukur Ya’qub
A. Prolog
--------------
Terjadi dialog kecil di tukang nasi uduk kebon kacang, antara Bang Diding dan Bang Ni'ing :
Bang Diding : Bang, ternyata ALLOH dilangit ye...
Bang Ni'ing : Ente kate sape ding...?
Bang Diding : Ntu.. Kate ustadz di yutub..
Bang Ni'ing : Ding.. Ding.. Mangkanye ngaji.. Ngaji.. Dimajlis, ame ustadz ahlussunnah yang asli... Bace tuh kitab sifat 20.. Kalo kagak, laen bakalan ente punye faham ame engkong-engkong kite dulu... Pegimane ALLOH dilangit...??? Sekarang abang mao' tanye... Duluan mane ALLOH ame langit...?
Bang Diding : Ya.. duluan ALLOH lah bang... Masa yang diciptain ade duluan... Mustahil..
Bang Ni'ing : Faham ente... Nah sekarang sebelon ALLOH ciptain langit, ALLOH di mane...?
Bang Diding : iye ye bang... di mane ye...???(dudung nyengir kude).
Bang Ni'ing : Jadinye dung... ALLOH nggak di mane-mane.. karna "dimane" itu nanya "tempat", dan tempat itu makhluq, dan ALLOH nggak butuh kepade makhluq.
Dahulu ALLOH nggak butuh langit, ngape pas ALLOH ciptain langit, terus dikate ALLOH dilangit...
Dan kalo gitu, yang paling deket ame ALLOH jadinye Astronot dong...???
Jadinye ding... ALLOH telah ade sebelon segala sesuatu ade...
Adenye ALLOH nggak diawali dengan ketiadaan...
Bahkan ALLOH ade, sebelon kata "ade" itu ade...
Bang Diding : diding jadi puyeng bang... 😮
Bang Ni'ing : Nyok deh... ngaji ame abang...
-------------------------------------------------
B. Peristiwa Mi'roj tidak menjadi dalil bahwa ALLOH SWT di langit.
Seluruh Ulama Ahlussunnah waljamaah sepakat bahwa Allah ada tanpa tempat. Dalam matan "Ummul Barohin" disebutkan :
" وقيامه تعالي بنفسه أي لا يفتقر إلي محل ولا مخصص ".
"Dan berdirinya (wujud) Allah Ta'ala dengan sendirinya, artinya IA tidak memerlukan suatu tempat (bagi zat-NYA), dan tidak memerlukan sesuatu yang menentukan (menciptakan) bagi wujud-NYA".
Penjelasan para Ulama tentang kisah “tawar menawar” jumlah salat sebagaimana riwayat Imam Bukhari berikut ini:
فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِبْرِيلَ كَأَنَّهُ يَسْتَشِيرُهُ فِي ذَلِكَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ جِبْرِيلُ: أَنْ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ، فَعَلاَ بِهِ إِلَى الجَبَّارِ، فَقَالَ وَهُوَ مَكَانَهُ: يَا رَبِّ خَفِّفْ عَنَّا فَإِنَّ أُمَّتِي لاَ تَسْتَطِيعُ هَذَا
“Kemudian Nabi SAW. menoleh ke arah Jibril seakan bermusyawarah tentang hal itu. Kemudian Jibril mengisyaratkan pada beliau: “Ya, bila Anda menghendaki [permohonan untuk dikurangi].” Lalu Nabi SAW naik pada Tuhan sedangkan ia di tempatnya dan berkata: Ya Tuhan, ringankanlah dari kami. Sesungguhnya umatku tak mampu melakukan ini...” (HR. Bukhari)
Mereka menjelaskan bahwa kalimat “Wahuwa makânahu” dalam hadis di atas, bukan berarti bahwa Allah ada di tempat itu, tetapi Nabi-lah yang berada di tempatnya semula menerima wahyu salat 50 kali sehari.
Kemudian Al-Imam Al-Hafidz Al-Qasthalani juga menjelaskan:
فقال) عليه الصلاة والسلام (وهو مكانه) أي في مقامه الأوّل الذي قام فيه قبل هبوطه
“Dia berada di tempatnya, maksudnya Nabi Muhammad Saw. berada di tempatnya yang awalnya di tempati sebelum turunnya.” (al-Qasthalani, Irsyâd as-Sârî Lisyarh Shahîh al-Bukhârî, juz X, halaman 449).
Demikian juga Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani menegaskan makna “tempat” di hadis Mi’raj itu dengan menukil pernyataan Imam al-Khattabi lalu menguatkannya sebagaimana berikut:
قَالَ الْخَطَّابِيُّ ... وَالْمَكَانُ لَا يُضَافُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى إِنَّمَا هُوَ مَكَانُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِهِ الْأَوَّلِ الَّذِي قَامَ فِيهِ قَبْلَ هُبُوطِهِ انْتَهَى وَهَذَا الْأَخِيرُ مُتَعَيَّنٌ وَلَيْسَ فِي السِّيَاقِ تَصْرِيحٌ بِإِضَافَةِ الْمَكَانِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
“Al-Khattabi berkata: ... Tempat itu tak disandarkan pada Allah Ta’ala, sesungguhnya itu tak lain adalah tempat Nabi ﷺ di tempat berdirinya sebelumnya sebelum turun. Ini akhir nukilan al-Khattabi. Keterangan terakhir ini sudah pasti dan dalam konteks hadis sama sekali tak ada penjelasan penisbatan tempat itu pada Allah Ta’ala.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, juz XIII, halaman 484)
---------------------------------------------
C. Tujuan Mi'rojnya Nabi SAW
Bila dikatakan, "lalu untuk apa Nabi SAW. di-Mi'rojkan?". Maka jawabannya dapat kita lihat dalam Surah Al-Isra’ : 1 :
سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
Ayat di atas menjelaskan tujuan al-isra dan al-mi'roj, yakni untuk memperlihatkan sebahagian tanda-tanda kebesaran Allah SWT (linuriyahu min âyâtinâ).
Sedangkan saat Nabi SAW. telah naik ke langit, maka Allah SWT juga memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang jauh lebih besar lagi, yakni dalam Surah An-Najm, ayat 18 :
لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَـٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ
"Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar".
Demikianlah penuturan Al-Quran yang wajib kita terima secara mutlak, bahwa Al-Isra' dan Al-Mi'raj itu untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan dalam rangka membawa Nabi SAW. ke “tempat Allah.”
Selain itu, para ulama menunjukkan hikmah bahwa peristiwa ini untuk menunjukkan keagungan salat sehingga perintahnya diberikan di langit sana, bukan di bumi seperti perintah lainnya.
Dan bagaimana mungkin kita mengatakan ALLOH dilangit tersebab adanya ayat Al-Quran yang menyatakan demikian, padahal ada pula ayat yang menyatakan ALLOH dibumi, yakni Surat An-Nisa, Ayat ke-164 :
...َ ۚ وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًۭا ".
"...Dan Allah telah berbicara kepada (Nabi) Musa (AS) dengan langsung".
Nabi Musa ketika itu tentunya dibumi, apa kemudian kita katakan Allah dibumi...???.
Tidak wahai saudaraku... Jangan memahami secara "Letterlijk" makna ayat-ayat tersebut, karena ayat yang demikian masuk pada kategori ayat "mutasyabihat", sebagai kebalikan dari "muhkamat". Tapi katakanlah, sebagaimana dikatakan para Ulama Ahlussunnah :
" الله موجود بلا مكان ".
"Allah wujud (ada) tanpa membutuhkan tempat".
-----------------------------------------
D. Bid'ah Dholalah kaum Mujassimah dan Musyabbihah.
Pada paruh akhir abad ke tiga dari masa "Salaf" (tiga abad pertama tahun hijriah), tepatnya pada sekitar tahun 260 H mulai menyebar berbagai bid’ah dan paham ekstrem dalam masalah akidah. Seperti bid’ah kaum Mu’tazilah, bid’ah kaum Khawarij, bid’ah kaum Musyabbihah, dan berbagai kelompok sempalan lainnya.
Kemudian Allah SWT memunculkan dua Imam agung, yaitu: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (w 324 H) dan Al-Imam Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H), yang datang dengan menjelaskan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang telah diyakini para sahabat Rasulullah SAW. dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dali Naqli dan dalil-dalil ‘Aqli, disertai dengan bantahan terhadap kesesatan-kesesatan kaum Mu’tazilah, kaum Musyabbihah/mujassimah, kaum Khawarij, dan kelompok ahli bid’ah lainnya.
Hingga saat ini, ada kaum yang mengaku Ahlussunnah, tapi berpaham mirip dengan paham "Mujassimah". Kaum Mujassimah, ialah suatu kaum yang menjisimkan TUHAN (mengatakan TUHAN bertubuh, sama dengan makhluk, seperti berpaham bahwa Allah bertangan, bermuka, berkaki, bertubuh seperti manusia.
Kaum Mujassimah tersebut juga dapat dinamai "Kaum Musyabbihah",(kaum yang menyamakan sifat Allah dengan makhluq–Nya), karena keyakinan mereka bahwa Allah bertempat sebagaimana makhluk:
1. Allah SWT. duduk di atas kursi.
2. Allah SWT duduk dan berada di atas arasy.
3. Tempat bagi Allah SWT. adalah di atas arasy.
4. Berpegang dengan zohir (duduk) pada ayat :
ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ
"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy".
5. Allah SWT. berada di langit.
6. Allah bercakap dengan suara.
7. Allah SWT. turun-naik dari satu tempat ke tempat yang lain.
8. Allah di atas, seperti dalam ayat ke-158 dari surah An-Nisaa' :
" بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًۭا ".
"Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
Kaum Mujassimah memahaminya : "Nabi Isa AS diangkat, BERARTI TUHAN DI ATAS.. ". Padahal "mengangkat", tidak harus bermakna "ke atas" secara hakiki, karena dapat juga bermakna ke "tempat yang mulia", sebagaimana paham dari kaum Ahlussunnah.
Kaum Mujassimah/Musyabbihah juga berdalil dengan "mengangkat tangan keatas saat doa", yang mereka anggap bukti nyata Allah di langit/di atas...
Maka jawab Ulama Ahlussunnah: "Langit adalah kiblat doa, sebagaimana Ka'bah adalah kiblatnya salat". Hal ini telah dijelaskan oleh Al-Imam Al-Ghazali (wafat : 505 H), dalam kitab Ihya ulumiddin, 1939 M/1358 H, Mesir, Mustafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuh, juz 1, halaman 113 :
" فأما رفع الأيدي عند السؤال إلى جهة السماء فإنها قبلة الدعاء وفيه أيضا إشارة إلى ما هو وصف للمدعو من الجلال والكبرياء تنبيها بقصد جهة العلو على صفة المجد والعلاء فإنه تعالى فوق كل موجود بالقهر والاستيلاء ".
Artinya, “Adapun perihal menengadahkan tangan ke arah langit saat berdoa, itu dikarenakan arah langit merupakan hanya kiblat doa. Hal ini juga mengisyaratkan sifat kebesaran dan keagungan Allah sebagai Zat yang dimintakan pertolongan, mengarah ke atas mengingatkan kita pada kemuliaan dan ketinggian-Nya. Allah dengan kuasa dan kewenangan-Nya di atas segala yang ada,”
Keterangan Al-Imam Al-Ghazali di atas jelas mengatakan bahwa "Langit" / "Atas", adalah Kiblatnya doa, sebagaimana Ka’bah adalah Kiblatnya salat. Arah atas merupakan symbol ketinggian, kemuliaan, keluhuran, dan kebesaran zat Allah SWT.
--------------------------------------
E. Dalil-dalil dan argumen Kaum Ahlussunnah waljamaah.
Berikut ini adalah beberapa dalil Al-Quran dan Al-Hadis yang menjadi pegangan kaum Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ariyah-Maturidiyah) bahwa Allah ada tanpa tempat :
1. Dalil pertama,
Firman Allah ﷻ :
" هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ".
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Nampak dan Yang Samar.” (QS: Al-Hadid: 3)
Ayat di atas ditafsiri oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut:
" اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ ".
"Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Zhohir, maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Bathin, maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim)
Hadis ini dengan amat jelas menyatakan bahwa di atas atau di bawah Allah tak ada sesuatu apa pun. Dan hadis ini adalah bagian dari doa Nabi ketika hendak tidur. Ini menunjukkan bahwa wujud (keberadaan) Allah tanpa tempat, baik sebelum Allah ciptakan waktu dan tempat, maupun setelah Allah menciptakannya.
Al-Imam al-Hafidzal-Baihaqi mengomentari hadis ini dengan menyatakan :
وَالَّذِي رُوِيَ فِي آخِرِ هَذَا الْحَدِيثِ إِشَارَةٌ إِلَى نَفْيِ الْمَكَانِ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى، وَأَنَّ الْعَبْدَ أَيْنَمَا كَانَ فَهُوَ فِي الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى سَوَاءٌ، وَأَنَّهُ الظَّاهِرُ، فَيَصِحُّ إِدْرَاكُهُ بِالْأَدِلَّةِ؛ الْبَاطِنُ، فَلَا يَصِحُّ إِدْرَاكُهُ بِالْكَوْنِ فِي مَكَانٍ. وَاسْتَدَلَّ بَعْضُ أَصْحَابِنَا فِي نَفْيِ الْمَكَانِ عَنْهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ» . وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ ". وَإِذَا لَمْ يَكُنْ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَلَا دُونَهُ شَيْءٌ لَمْ يَكُنْ فِي مَكَانٍ
"Yang diriwayatkan di bagian akhir hadis ini mengisyaratkan tiadanya tempat bagi Allah dan bahwa seorang hamba di mana pun berada, jauh dekatnya sihamba sama saja dari Allah. Dia adalah Az-Zhâhir (Yang Tampak) sehingga bisa dimengerti dengan dalil. Tapi Dia juga Al-Bâthin (Yang Tak Nampak) sehingga tak bisa dipahami berada di suatu tempat pun. Sebagian sahabat kami (ulama ahlussunnah) berdalil untuk menafikan adanya tempat bagi Allah dengan hadis tersebut. Kalau di atasnya tidak ada sesuatu pun dan dibawahnya juga tidak ada sesuatu pun, maka berarti Allah tidak berada di suatu tempat manapun." (al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât, juz II, halaman 289).
2. Dalil kedua
Firman Allah ﷻ :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tak ada sesuatu pun yang serupa sedikit pun dengan-Nya.” (QS. As-Syura: 11)
Ayat ini menafikan semua bentuk keserupaan secara mutlak. Seluruh alam materi yang kita kenal seluruhnya bertempat. Bertempat berarti punya dimensi tertentu, massa tertentu, batasan tertentu dan dalam ruang tertentu. Bila Allah tak sama sedikit pun dengan apa pun berarti tak mungkin Allah bertempat sebab yang bertempat pasti menempati ruang. Ruang itu sendiri harus lebih besar, lebih kokoh, dan ada sebelum keberadaan-Nya atau paling tidak, ada bersamaan dengan diri-Nya dan tetap kekal bersama-Nya. Ini tentu bermasalah sebab berarti mengatakan ada dua hal yang qadîm, yakni Allah dan ruang tempat Allah.
3. Dalil ketiga,
Firman Allah ﷻ:
اللَّهُ الصَّمَدُ
"Allah yang Maha Dibutuhkan.” (QS. Al-Ikhlas: 2)
فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tak butuh pada apa pun selain Diri-Nya) dari semesta alam". (QS. Ali Imran: 97)
Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa segala sesuatu selain Allah ('alam) membutuhkan Allah yang menciptakan, mendesain, merawat dan menentukan segala sesuatu terkait keberadaannya. Sedangkan Allah sendiri sama sekali tak butuh semua itu. Ruang dan waktu adalah salah satu ciptaan Allah yang didesain serta diatur cara kerjanya sesuai kehendak Allah tanpa sedikit pun Allah berada di dalamnya atau terpengaruh oleh keduanya. Allah telah ada sebelum semua itu ada dan tak berubah setelah semua ada dan terus ada setelah semua binasa.
Bila dipahami bahwa keberadaan Allah haruslah bertempat di suatu ruang, maka itu berarti keberadaan Allah membutuhkan adanya ruang. Kebutuhan Allah akan apa pun adalah mustahil bagi Allah, sesuai dengan ayat di atas.
4. Dalil keempat
Sabda Rasulullah ﷺ :
" كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ ".
" Allahada pada azali (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatu pun selain-Nya". (HR. Bukhari)
Hadis sahih ini menegaskan bahwa Allah telah ada sebelum apa pun. Di manakah Allah saat itu? Ini pertanyaan tak relevan sebab semua tempat belum tercipta saat itu. Apakah tidak bisa dikatakan bahwa sebelumnya Allah memang tak bertempat lalu kemudian menciptakan tempat lalu menempati tempat itu? Tentu tidak bisa, sebab kesimpulan seperti ini tak ada dalilnya, baik secara naqli atau aqli. Karenanya, Ahlussunnah meyakini bahwa sejak awal Allah tak bertempat dan selamanya demikian.
5. Dalil kelima
Adalah segala pengungkapan Allah tentang "lokasi" diri-Nya yang berbeda-beda, baik dalam Al-Quran dan dalam hadis.
Kadang keberadaan Allah diungkapkan seolah di atas langit, kadang seolah di bumi bersama manusia dalam semua aktivitasnya, kadang seolah persis di depan manusia, kadang seolah meliputi kita, kadang seolah dekat sekali bahkan lebih dekat dengan urat leher kita, kadang diungkapkan bahwa posisi terdekat dengan Allah adalah saat sujud, dan banyak ungkapan lainnya. Ini semua kalau dibaca secara objektif hanyalah sekedar ungkapan saja akan eksistensi Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Dekat, Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi.
Memaknai semua ungkapan tersebut sebagai lokasi secara fisik merupakan kemustahilan sebab akan terlihat bahwa ayat dan hadis akan saling bertentangan. Sedangkan membagi-bagi sekehendak hati dengan memahami seluruh dalil yang mengungkapkan seolah di atas sebagai lokasi Allah secara fisik sedangkan seluruh dalil yang seolah di bumi sebagai ungkapan kiasan berupa ilmu dan pengawasan, adalah tindakan yang tak ada satu pun dalilnya dari Al-Quran dan hadis.
Asy-Syaikh Ibnu Abdil Barr secara objektif berkata :
وَفِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ وَمهما تُؤُوِّلَ بِهِ هَذَا جَازَ أَنْ يُتَأَوَّلَ بِهِ ذَاكَ
“Dalam hadis [yang menyebutkan Allah berada di depan orang salat], ada gugatan bagi orang yang menyangka bahwa Allah ada di atas Arasy dengan Zat-Nya. Ketika dalil ini [yang mengatakan Allah di depan orang salat] boleh ditakwil dengan dalil itu [yang mengatakan Allah di atas Arasy], maka demikian juga dalil ini boleh dibuat untuk menakwil dalil yang itu.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, juz I, halaman 508).
Inilah beberapa dalil naqli dari Al-Quran hadis yang menjadi bukti bahwa : "ALLAH ADA TANPA TEMPAT". Adapun pernyataan manusia biasa, siapa pun itu, yang bertentangan dengan dalil di atas, maka dapat dipastikan tidak tepat. Selain dalil-dalil naqli, kesimpulan bahwa Allah tak bertempat juga didukung oleh dalil-dalil rasional ('aqliy) yang tak terbantahkan.
والله أعلم بالصواب
AMSY
Kontributor: Mohammad Faqih Ramdhani
-----------
Sumber tulisan :
------------------------
1. Al-Asmâ’ was-Shifât, oleh : Al-Imam Abu Bakar Ahmad bin Al-Husein bin 'Ali Al-Bayhaqi An-Naisaburi RH.
2. Fath Al-Bâry syarah Shohih Al-Bukhoriy, oleh : Al-Imam Ahmad bin 'Ali Ibnu Hajar Al-'Asqolaniy.
3. Irsyâd As-Sârî Lisyarh Shahîh al-Bukhârî, oleh : Al-Imam Al-‘Allamah Syihabuddin Ahmad bin Muhammad Al-Khothib Al-Qostholani.
4.Ummul Barohin, oleh Al-Imam Muhammad bin Yusuf As-Sanusiy Al-Hasaniy.
5. Ihya 'Ulumiddin, oleh : Hujjatul Islam Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Ghazaliy.